LITERASI LINGKUNGAN; MERAWAT EKOLOGI DI TENGAH PANDEMI

Qonita Fitra Yuni
Guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Suboh

Manusia dan lingkungan alam merupakan ciptaan Allah swt yang berkaitan dan tidak tidak bisa berdiri sendiri. Pada konsep ekologi manusia adalah agen yang punya pengaruh besar terhadap kondisi lingkungan alam. Baik buruknya lingkungan alam tergantung perilaku manusia.

Penjagaan manusia atas lingkungan alam berkaitan dengan peranan manusia sebagai khalifah fil ardl. Sebelum menjaga lingkungan alam, tugas utama manusia yang pertama adalah menjaga dirinya sendiri. Menurut pemahaman Islam, alasan manusia bertanggung jawab melestarikan dan menjaga lingkungan alam karena manusia adalah wakil Allah di bumi dan gambaran (mirror) atas kesempurnaan wujud Allah swt (Ibnu Arabi). Kewajiban manusia memunculkan gambaran kesempurnaan wujud Allah secara komprehensif.

Proses penjagaan manusia terhadap lingkungan alam tidak terlepas dari dua dimensi, dimensi teologi dan dimensi fikih. Dimensi teologi mengatur bagaimana relasi antara manusia, alam, dan Tuhan. Sedangkan dimensi fikih menghasilkan hukum syari dan hukum praktis yang menjadi pedoman perilaku masyarakat sehari-hari. Dimensi teologi dalam kehidupan  sehari-hari manusia sebagai makhluk Allah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas semua perilaku nya. Pada dimensi fikih adanya hukum atau aturan mengenai larangan membuang sampah sembarangan.

Penjagaan Manusia terhadap Lingkungan Alam

Manusia berhak dalam pemanfaatan alam. Di Indonesia dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Demikian pula bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Atas dasar itulah, manusia berhak mendapatkan manfaat lingkungan alam, lingkungan yang nyaman, udara yang bersih, atau tanah yang subur. Hak pemanfaatan lingkungan alam berlaku untuk umum tanpa mengenal golongan tertentu dan setiap orang berhak mendapatkan tanpa bergantung manusia lain. Manusia harus saling mendukung dalam pemerolehan hak nya.

Hak asasi dapat berubah menjadi kewajiban. Ketika Islam memberikan hak kepada manusia untuk memilih agama misalnya, maka berlaku juga kewajiban yang menyertai hak tersebut. Seseorang yang memutuskan menjadi Muslim mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan, sholat lima waktu, puasa Ramadhan, dan rukun Islam yang lain. Jadi, hak dan kewajiban adalah satu paket yang beriringan tak terpisahkan.

Pada konteks menjaga lingkungan alam, tanggung jawab manusia atas lingkungan alam tidak hanya berhenti pada menjaga, tetapi juga bagaimana manusia mampu bekerjasama dengan banyak pihak untuk memahami alam, selanjutnya mengembangkan dan memperbaiki lingkungan alam melalui penelitian atau research. Semakin baik kondisi lingkungan alam, semakin melimpah rezeki manusia. Sebab ketergantungan manusia atas lingkungan alam tidak bisa hadir begitu saja.

Muhtasib seorang quality control telah dikenal sejak zaman Daulah Islamiyah sekitar tahun 6H/12M. Dalam perdagangan, salah satu tugas dari Muhtasib adalah mengontrol tukang roti, memastikan pedagang roti menggunakan topi, masker, dan mencukur bulu tangannya. Sedangkan di dunia medis, memastikan lulusan kedokteran memahami betul anatomi tubuh juga diuji kecerdasannya sehingga lulus dan praktek melalui ujian dan tes yang ketat. Keberadaan Muhtasib memastikan masyarakat mendapatkan haknya untuk hidup bersih dan sehat. Keberadaan Muhtasih adalah implementasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Mengapa kita mengaitkan tanggung jawab menjaga lingkungan alam dengan agama? Hukum syariat yang berhubungan dengan lingkungan alam tidak bisa dipisahkan dengan agama. Islam mengajarkan menjaga kebersihan dengan thaharah wudhu, mandi, dan mandi besar. Artinya, di dalam agama Islam air memiliki peran penting dalam ritual ibadah. Manusia yang berpikiran sekuler menganggap kebersihan lingkungan dan keberadaan air tidak ada kaitannya dengan ibadahnya, bagaimana air bisa sampai di kamar mandi masjid, berapa banyak sisa stok air, atau apakah air tersebut bersih. Hubungan manusia dengan lingkungan alam belum terjalin dan manusia belum berpikir secara holistik. Muslim belum mampu menjadikan teks-teks agama sebagai landasan Eko-teologi, menghubungkan ajaran teologi dan ekologis (Syekh Husein Nasr: 1967)

Untuk menjamin hak manusia yang telah melakukan tanggung jawab menjaga alam, perlu juga menindak tegas oknum yang mengeksploitasi lingkungan alam untuk kepentingan matrealistis dengan dalih development atau pembangunan. Merawat ekologi juga penting untuk mencegah kerusakan alam yang meliputi kedholiman, pembunuhan, kerusakan, dan hal-hal yang melampaui batas.

Metode yang benar juga penting dalam proses menjaga kelestarian lingkungan alam. Metode dan pelestarian harus beriringan dan berimbang. Pembangunan harus diiringi dengan metode yang baik, dan metode yang baik diharapkan menghasilkan pembangunan yang baik. Sebagaimana perkembangan teknologi diharapkan mampu membantu kehidupan manusia tanpa merusak alam.

Sesungguhnya Islam memperlakukan segala ciptaan Allah swt berlandaskan cinta dan penghormatan. Cinta dan penghormatan lebih tinggi dari sekedar menjaga dan memakmurkan.  Islam juga mendorong relasi manusia dengan lingkungan alam. Dalam perspektif teologi Islam, seluruh alam raya tunduk, bertasbih, dan sujud pada Allah swt. Oleh karena itu, lingkungan alam mencintai manusia yang taat kepada Allah swt dan menangisi kepergiannya. Sebagaimana kecintaan Rasulullah terhadap bumi Mekah. Saat akan berhijrah dan meninggalkan kota Mekah, Rasulullah sangat bersedih. Ikatan batin antara Rasulullah dengan Mekah telah terjalin kuat.

Inilah bagaimana Islam menjelaskan hubungan relasi antarmanusia dan lingkungan alam dengan cinta kasih. Jika relasi manusia dan lingkungan alam terjalin baik, konsep ketahanan pangan dan back to nature mudah dipraktekkan. Bertahan di tengah krisis ekonomi dan pandemi bukan lagi hal yang sulit karena lingkungan alam membantu memenuhi kebutuhan manusia.

Qonita Fitra Yuni*

Guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Suboh